• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Short Story – Wusssssh… Disappear!

Short Story – Wusssssh… Disappear!

Love+is,+water,+sand,+flower,+fire,+earth,+air..+Love+Is

Foto diambil dari carolcassara.com

 

 

Wusssssh… Disappear!

 

“Heii, Luluuu… gimana diklatnya? Lemes amat sih?”

 

Aku hanya menengok sebentar ke arah datangnya suara yang menyapaku.

 

“Capek.. Ngantuk..”, jawabku sekenanya sambil kemudian kembali kujatuhkan kepalaku di atas tas yang kuletakkan di meja.

 

“Kok? Bukannya seneng? Bukannya kamu bilang yang jadi pendamping kelompokmu adalah one of your prince of charming? Cerita doooong…”

 

“Ah, males..”

 

“Kok?”

 

Aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Aku bahkan tidak berselera untuk mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Raya yang aku yakin saat ini sedang terbengong-bengong dengan tanggapanku tadi.

 

Hmm, tadinya aku memang senang, Raya. Senang banget malah. Tapi itu tadinya. Catet ya, ta-di-nya. Aku mengomel dalam hati. Sekarang yang terasa cuma pegal-pegal dan kantuk yang luar biasa ini. Mungkin seharusnya aku menuruti godaan kakaku untuk bolos sekolah saja hari ini.

 

“Yaelah, diklat gitu doang. Emang disuruh ngapain aja?”, ledek kakakku ketika mengantarku sekolah tadi pagi karena aku masih saja mengeluh capek.

 

Kalau diingat-ingat sebenarnya memang tidak banyak aktivitas fisik yang dilakukan. Hanya berjalan sejauh satu kilometer dari tempat dimana kami turun dari bis menuju lokasi perkemahan. Mungkin karena jalur menuju ke sana merupakan jalur berbatu dan menanjak yang membuat jarak sejauh satu kilometer itu terasa sepuluh kali lebih jauh. Dan ya, tentu saja karena kami melalui jalur itu sambil memanggul ransel masing-masing. Saat itupun aku kembali mengingat setiap kata yang diucapkan kakakku ketika aku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa untuk acara diklat pengurus baru OSIS itu pada malam sebelumnya.

 

“Hah? Serius? Kamu mau diklat atau mau pindahan? Mau diklat 3 hari aja bawaannya kayak orang mau pindahan”, kata kakakku setengah berteriak melihat barang bawaan yang aku masukkan ke dalam ransel.

 

“Masa iya orang sama ranselnya gede ranselnya?”, lanjutnya.

 

“Ih, berisik ah”

 

Aku yang awalnya hanya mengabaikan omelannya lama kelamaan tidak tahan juga untuk tidak berkomentar. Tetapi meskipun aku tidak suka mengakuinya, saat dalam perjalananku memanggul ransel itu menuju lokasi perkemahan saat itu, aku harus mengakui dengan sepenuh hati bahwa semua perkataan kakak semata wayangku itu benar. Aku terengah-engah begitu sampai di lokasi. Belum lagi bahu dan punggungku yang terasa sakit mengingat beban yang nangkring di atasnya cukup berat.

 

Setelah istirahat sekitar lima belas menit, kami diberi waktu satu jam untuk mendirikan tenda sesuai kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Capek bercampur lega setelah melihat total sepuluh tenda sudah berdiri sempurna membentuk lingkaran, menyisakan sebidang tanah berumput di tengah-tengah, sebagai tempat berkumpul seluruh peserta saat briefing pagi dan sore, yang kuduga juga akan digunakan sebagai tempat untuk acara malam api unggun di malam terakhir diklat itu. Kami beruntung mendapatkan lokasi di sini, dimana perkemahan kami menghadap ke arah pegunungan.

 

Tetapi tahukah? Bahwa capek yang kurasakan saat itu tiba-tiba menguap ketika melihat salah seorang panitia diklat ganteng pemilik tatapan mata yang tajam itu mendekat untuk mengumumkan bahwa seluruh peserta diminta untuk berkumpul di tengah. He is one of my prince of charming! Namanya Dewa. Kakak kelasku. Ah, matanya itu tidak pernah membuat aku berhenti terpesona. Hanya dengan melihatnya saja aku bisa tersenyum-senyum tanpa henti sehari semalaman. Hmm, baiklah, itu terlalu berlebihan. Dan yang lebih membuat jantungku seakan ingin meledak adalah ketika tahu bahwa dia adalah pendamping kelompokku selama diklat 3 hari ke depan nanti!

 

Untuk pertama kalinya, tugas menjadi ketua kelompok terasa seribu kali lebih menyenangkan. Mulai dari mengumpulkan tugas, melakukan laporan harian, atau sekedar menanyakan detil tugas yang tidak kami mengerti kepada pendamping kelompok. Dan bukan Lulu namanya kalau kehabisan ide untuk mencari kesempatan sekedar berbincang dengan dia. Tugas yang menyenangkan, saudara-saudara!

 

“Kak, untuk acara api unggun nanti kelompok kita rencananya akan bikin parodi video klip. Lagunya sudah dipilih. Tinggal memfinalkan idenya aja. Nanti Kak Dewa bisa ikut diskusinya? Mungkin ada saran lagi untuk lebih mematangkan ide kami, Kak?”, tanyaku ketika kami berjalan beriringan dari pos P3K menuju lokasi perkemahan untuk mengambil beberapa perlengkapan sebagai bekal outdoor activity yang akan kami lakukan 2 jam lagi.

 

“Wah, keren tuh idenya. Oke, nanti saya akan ikut diskusinya”, ucapnya dengan antusiasme yang tulus. Tidak dibuat-buat.

 

“Siap, Kak!”

 

Aku tersenyum senang. Dapat kurasakan wajahku menghangat. Yang pasti bukan karena sengatan matahari yang sudah mulai beranjak naik. Aku bahkan tidak peduli apabila saat ini Kak Dewa menangkap rona merah yang sedang bersemu di wajahku. Aku bahkan sama sekali tidak keberatan apabila dia bisa menangkap tanda yang kuberikan. Bahwa aku suka.

 

Entah apakah ada momen yang lebih baik lagi daripada pagi ini. Berjalan menyusuri jalan setapak yang di kanan dan kirinya masih dikelilingi hamparan hijau yang menyejukkan mata tiap kali melemparkan pandangan. Sambil menikmati sinar matahari yang perlahan mulai menghangat. Pagi yang indah untuk mengawali hari ini. Terlalu dinikah untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta?

 

Aku teringat Raya. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menceritakan semua ini kepada Raya sepulang aku dari diklat nanti. Aku sudah membayangkan bagaimana ekspresinya. Raya, temang sebangkuku itu pasti akan sesekali tersenyum lalu tergelak ketika mendengar ceritaku nanti.

 

“Lulu, serius mau ikutan ekskul sebanyak itu?”, tanya Raya hampir berteriak ketika melihat aku mengisi beberapa lembar formulir pendaftaran ekskul. Aku hanya mengangguk kala itu sambil terus mengisi jawaban atas pertanyaan mengapa aku tertarik mengikuti ekskul tersebut.

 

Aku memang orang yang mungkin memiliki kelebihan energi. Sejak SMP, kegiatan ekstrakurikuler yang kuikuti banyak. Tapi aku memang menikmatinya. Karena itu, kalau ditanya mengapa aku mengikuti ekskul sebanyak itu, ya karena aku menyukainya. Mulai dari OSIS, pramuka, pencinta alam, paskibra, hingga majalah sekolah. Ekskul apa saja, kecuali paduan suara dan seni tari. Haha, aku cukup tahu diri bahwa suaraku eksklusif  hanya untuk kunikmati sendiri saja di kamar mandi. Dan soal seni tari? Ah, aku tidak ingin terlihat seperti sebuah robot cantik yang sedang menggerak-gerakkan badannya.

 

Tetapi kalau aku harus jujur, memang sih kali ini ada sedikit maksud tersembunyi dari keikutsertaanku pada berbagai ekskul di sekolah baruku ini. Ya, aku berharap dengan makin banyak ekskul yang kuikuti, akan makin banyak pula peluang bertemu prince of charming. Hahaha, Raya menimpukku ringan dengan buku saat mendengar pengakuanku itu. Dan tahukah, Raya? Salah satu dari prince of charming yang pernah aku ceritakan itu ada di sini.

 

Sampai pada hari terakhir diklat saat itu, rasanya tidaklah berlebihan kalau aku bilang bahwa ini adalah diklat terindah yang pernah kualami. Hinga saat itu. Saat kami, para peserta, sedang membongkar tenda kami seusai acara diklat ditutup secara resmi. Saat aku sedang mengumpulkan tugas terakhir kepada my prince of charming, eh maksudku kepada pendamping kelompokku. Saat aku dengan senyum paling manis dan pandangan mata paling berbinar-binar menghadap Kak Dewa.

 

“Kak, ini tugasnya ya..”

 

Seperti biasa, dia menerima tugasnya, mengecek sebentar, lalu berkata, “oke, makasih ya”, dengan sekilas melayangkan tajam tatapan matanya dan memperlihatkan segaris senyumnya. Cool. Seperti biasa. Dan aku, seperti biasa pula langsung berbalik, masih menyunggingkan senyum dan berjalan dengan sedikit melompat-lompat. Kakakku sering meledekku tiap kali aku berjalan dengan cara seperti itu.

 

“Ih, kayak anak kecil”

 

Bukannya berhenti, aku malah sengaja membuat cara berjalanku makin mirip anak kecil yang kegirangan setelah mendapatkan mainan atau apapun yang diinginkan tiap kali kakakku meledekku seperti itu.

 

“Eh, Lulu..”

 

Eits, tunggu. Suara itu. Aku langsung menghentikan langkahku. Aku segera menengok ke arah datangnya suara seakan tidak percaya. Kak Dewa memanggilku. Ini tidak biasa.

 

“Ya, Kak?”, aku bisa merasakan wajahku memerah, setengah menyesal dan membodohkan diri sendiri seandainya Kak Dewa melihat aku melompat-lompat tolol seperti tadi.

 

“Kamu sekelas sama Raya?”

 

“Iya, kami sebangku malah”, aku berusaha menguasai diri, masih berharap Kak Dewa tidak memperhatikan tingkahku tadi.

 

“Oh…”

 

“Kenapa, Kak?”

 

“Mmm, salam buat Raya ya..”, ucapnya sambil tersenyum.

 

Dan seketika itu aku merasakan aliran darahku turun drastis. Mungkin wajahku sudah berubah pucat. Senyumnya itu. Bukan senyum segaris seperti biasanya. Melainkan senyum yang.. Ah, aku tidak tahu dan tidak mau menggambarkan bagaimana senyumnya saat itu. Akupun enggan mendeskripsikan bagaimana aku bisa menemukan binar-binar di tatap tajam matanya ketika mengatakan kalimat itu. Ketika dia mengucapkan nama Raya. Satu-satunya yang aku tahu adalah saat itu juga tatapan mata dan senyumnya mendadak tidak lagi tajam dan manis buatku. Wusssssh. Semuanya hilang. Dan tentang ucapanku bahwa ini adalah diklat terindah? Lupakan saja.

 

“Lulu, tidur beneran?”, tanya Raya seraya mengguncang pelan bahuku, bertepatan dengan bunyi bel masuk sekolah, membuyarkan ingatanku akan apa yang terjadi selama diklat itu.

 

Hingga jam sekolah hari inipun berakhir, aku tidak menyampaikan salam dari Dewa untuk Raya. Belum. Mungkin tidak. Ah, entahlah.

 

*******

 

– pim 220913 –

Diikutsertakan dalam tantangan menulis cerpen #LoveatSchool dalam rangka giveaway novel #MyCurlyLove oleh @AlamGuntur

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

Leave a reply