• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Short Story – Percik, Kembang Api dan Bintang

Short Story – Percik, Kembang Api dan Bintang

passport_fireworks_KYTX-TV_cbs_tyler

Dua gadis kecil berkejaran di antara riuh rendah warga yang sedang mempersiapkan pesta pada malam hari nanti. Mereka dengan lincahnya menerobos puluhan, ratusan, bahkan ribuan jamur yang sudah siap dipanen.

“Kakak, benarkah malam nanti jamur-jamur itu akan bersinar?” tanya si gadis kecil bermata emas itu. Rambutnya yang berwarna senada dengan matanya bergoyang-goyang di antara liukan angin yang berhembus lembut di antara kepak sayapnya.

“Benar! Dan mereka tampak sangat indah, berkilau seperti ini” Kembang Api mengeluarkan sebuah toples kecil dari kantongnya. Kilauan benda dengan aneka warna yang semburat dari dalam toples transparan itu berpadu dengan kilatan mata birunya yang bening.

“Apa itu? Aku mau satu, kakak..!” Percik Api berusaha merebut toples yang berkilau itu dari tangan kakaknya. Mereka pun lalu berkejaran. Percik Api yang baru berusia tiga tahun itu terjatuh ketika sayap mungilnya menabrak sebuah jamur yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.

Menyadari itu, Kembang Api segera meluncur menghampiri adiknya yang ternyata salah satu sayapnya terluka.

“Kakak jahat!” teriak Percik marah sambil merebut toples yang berkilau aneka warna itu dari tangan Kembang dan melemparnya. Dengan mudah, toples itu pun hancur, memuntahkan puluhan benda berbentuk bintang yang berkilau. Lebih tepatnya, yang tadinya berkilau. Begitu menyentuh tanah, semua hanya serupa batu biasa.

Kembang hanya tertegun menatap puluhan bintang yang dengan susah payah ia kumpulkan setiap bulan sabit menjelang. Sementara itu, beberapa titik api mulai keluar dari kedua sudut mata adiknya. Percik menangis. Titik-titik api pun berubah menjadi kobar api ketika tangis Percik makin kencang. Tanpa ada yang memberi komando, seluruh warga  berterbangan mengumpulkan air dari sungai Peri Suci untuk memadamkan api yang mulai melahap dengan cepat setengah dari seluruh jamur yang ada.

Tidak ada pesta malam itu.

*******

“Kembang, pesta akan segera dimulai” bisik seorang perempuan yang meskipun usianya sudah setengah abad lebih masih saja terlihat menawan.

“Iya, Ibu, Kembang akan segera menyusul” ucapnya sambil tersenyum seraya merapikan gaun putihnya yang menjuntai panjang. Ia tampak sangat cantik malam itu.

“Jangan berdandan terlalu cantik, nanti pengantin prianya salah mengira kalau kamu adalah pengantin perempuannya” goda Lily, sahabat Kembang.

Ah, pengantin pria selalu tahu siapa pengantin perempuannya. Pengantin pria tidak pernah salah.

Kembang muncul di antara ribuan jamur yang sudah mulai mengeluarkan cahayanya. Malam ini seperti malam itu, dua puluh tahun yang lalu. Adiknya terlihat sangat cantik dalam balutan gaun warna emas dengan mahkota yang bertahta anggun di atas kepalanya. Adiknya akan menjadi pengantin. Bersanding dengan pengantin pria, seorang pangeran tampan dari Negeri Langit. Pangeran Bintang

Pesta jamur dan bintang adalah perpaduan sempurna untuk menjadi mesin waktu bagi Kembang. Semua kenangan itu terputar lagi. Kilauan bintang yang berhamburan ke tanah, tangisan adiknya, percik api yang kemudian berubah menjadi kobar api. Semuanya. Malam ini, Kembang akan memastikan tidak akan ada kobar api, bahkan percik api sekecil apapun. Ya, sejak kejadian dua puluh tahun silam itu, Kembang berjanji tidak akan pernah membuat adiknya menangis. Tidak akan pernah. Malam ini, orang-orang akan melihat aneka warna kembang api yang cantik di langit sana. Ia pastikan itu.

Kembang berdiri di samping Percik, menemaninya melangkah menuju pengantin pria yang dengan gagah menunggu pengantin perempuan tiba. Pengantin pria tersenyum. Kilauan bintang tampak di kedua bola matanya. Jelas bahwa bukan hanya bibirnya yang tersenyum, tapi juga kedua matanya. Kembang menunduk, tidak sanggup menatap kedua mata sang pengantin pria yang tatapannya sudah berubah dari tatapan bocah lelaki usil menjadi tatapan seorang pria yang sanggup menghunus hati perempuan manapun untuk mencintainya.

“Setiap bulan sabit tiba, akan kuambilkan sebuah bintang untukmu” ucap seorang bocah lelaki padanya.

Ah. Itu sudah lama sekali.

Lamunan Kembang buyar ketika mendengar riuh suara para warga yang menyambut bahagia pernikahan Percik dan Sang Pangeran. Mereka memang sangat serasi.

“Kembang, seusai pesta aku akan membawa adikmu ke negeriku. Mainlah ke sana sesekali”

Kembang terkejut mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba saja menghampirinya.

“Percik bercerita, kau sangat menyukai bintang. Maukah kau menyimpan ini?”

Kembang tertegun, ia tidak sanggup menahan bibir mungilnya untuk tidak terbuka ketika melihat pria yang baru saja menikahi adiknya itu mengeluarkan sebuah toples kecil dari sakunya. Toples transparan yang berkilau aneka warna.

“Dulu, setiap bulan sabit tiba, aku mengambil sebuah untuk kuberikan kepada sahabatku. Ia tidak pernah datang lagi menemuiku. Tapi aku tetap mengambil sebuah tiap kali bulan sabit datang. Siapa tahu suatu hari aku bertemu dengannya lagi”

Jantung Kembang serasa jatuh ke tanah. Ingin rasanya ia berteriak, “hai Bintang, ini aku, Kembang Apimu!”

Pelan, tangan Kembang terulur. Sudah lama ia tidak melihat keindahan seperti itu.

“Hai, di sini kau rupanya. Ada yang ingin kuperkenalkan kepadamu” Percik muncul dengan ceria dan langsung menggamit Bintang kembali ke kerumunan tamu.

Pesta belum usai. Kembang dapat merasakan dadanya sangat sesak. Secepat kilat ia meluncur mengepakkan sayapnya menembus pekatnya malam. Sebuah toples berkilau tergenggam di tangannya. Malam ini bulan sabit tiba.

Kembang berdiri di ujung pohon cemara tertinggi, membuka tutup toples berkilau itu. Ia meniupnya ringan, seringan buliran air mata serupa kilau aneka warna yang keluar dari kedua sudut matanya. Ia menangis.

Ribuan bintang keluar perlahan dari toples transparan itu. Warna-warninya berpadu dengan sempurna dengan kilau kembang api yang mulai mewarnai langit. Kembang api yang tadinya hanya serupa kilatan-kilatan kecil di langit yang pekat berubah menjadi layaknya pesta kembang api yang sangat meriah seiring dengan tangis Kembang yang makin ruah.

Lihatlah, aku memenuhi janjiku. Hanya akan ada kembang api aneka warna di langit malam ini.

Hai, kamu. Jika kamu melihat aneka warna kembang api dan ribuan bintang berkilau semburat di langit yang pekat, itu aku. Aku yang sedang menangis melepas cintaku. Melepas Bintangku.

 

*******

 

– pim 181013 –

 

Diikutsertakan dalam #TantanganDongengPeri – Peri Api dalam rangka giveaway novel #AfterRain oleh @PramoeAga

foto : passporttotexas.org

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

1 Comment

  1. arisdian · November 8, 2014 Reply

    Gak nyangka ternyata..

Leave a reply