• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Short Story – Di Sela Tawanya

Short Story – Di Sela Tawanya

po-02

Ruangan yang berukuran tidak lebih dari 10 x 20 meter persegi itu dipenuhi oleh suara tawa anak-anak berusia tujuh tahun usai melihatku memamerkan beberapa gerakan Kung Fu yang kupelajari dari sebuah film yang kutonton melalui DVD tua di rumahku beberapa hari sebelumnya. Ya, hari ini aku adalah Po, Si Kung Fu Panda. Tawa mereka terdengar lepas, tawa khas anak-anak. Tidakkah tawa mereka membuatmu iri? Mungkin ya, tetapi tidak bagiku. Setiap kali mendengar mereka tertawa lepas seperti itu, pada saat yang sama pula aku ikut tertawa lepas bersama mereka.

 

Bagiku, bahagia itu sederhana. Sesederhana melengkungkan secara simetris kedua sudut bibir ke atas. Hal yang kulakukan setiap hari, setiap kali aku memakai kostumku. Bagaimana tidak? Cobalah sesekali kau pakai topeng atau bahkan kostum lengkap sepertiku. Winnie The Pooh, Mickey Mouse, Tom Si Kucing, atau Po Si Kung Fu Panda seperti yang kupakai hari ini, lalu berdirilah di depan cermin. Cobalah untuk tidak tersenyum. Sejauh yang kulakukan, itu tidak pernah berhasil. Aku selalu tersenyum setiap kali melakukannya. Terlebih di hadapan anak-anak ini. Tidak mungkin kau tidak turut merasakan kebahagiaan mereka.

 

Karena itulah aku menyukai pekerjaanku. Aku selalu bisa membuat mereka bahagia, setidaknya bisa membuat mereka sekedar tersenyum, seperti sore ini. Siapapun tersenyum, tertawa, bergembira. Siapapun, kecuali satu orang.

 

Seorang gadis mungil berwajah cantik tampak duduk di barisan kedua dari belakang. Ia berada di antara teman-temannya tapi tidak turut tertawa bersama mereka. Beberapa helai rambut ikalnya terlepas dari ikatannya.

 

Hai gadis kecil yang cantik, apa yang sedang kau risaukan?

Sedang memikirkan warna balon apakah yang akan kau dapatkan nanti?

Akan kuberikan sebuah, dua buah, bahkan berapapun, warna apapun balon yang kau mau…

Aku janji, jika itu bisa membuat wajah cantikmu merona…

 

Nikmatilah hari ini, gadis kecil…

Tertawalah lepas…

 

Riuh suara tawa mereda, berganti gema suara lagu selamat ulang tahun yang serentak mereka nyanyikan sambil bertepuk tangan. Sambil mengikuti iramanya dan menggoyang-goyangkan pantatku, lebih tepatnya pantat panda yang besar ini, kedua mataku masih mencari sosok gadis cantik yang murung tadi. Ah, itu dia. Bibir mungilnya ikut bergerak-gerak pelan mengikuti nyanyian. Ada sedikit senyum yang terkulum di sana. Hanya sedikit. Entah mengapa, refleks aku ikut tersenyum dari balik kepala pandaku. Hanya tersenyum sedikit juga.

 

“Setelah ini, acara potong kue, lalu sambil mereka makan kuenya, Bapak siap beraksi lagi, ya” ucap seorang perempuan muda yang adalah salah seorang guru pengajar para murid menggemaskan ini.

 

Belum sempat aku mengangguk, aku terlonjak ketika mendengar ada sebuah balon yang meletus. Suaranya keras sekali hingga mampu membuatku sangat terkejut. Rupanya lonjakanku tadi tanpa sengaja membuat beberapa buah balon yang ada persis di belakangku menjadi terhimpit di antara pantat pandaku yang besar dan dinding. Meletuslah beberapa balon lagi akibat himpitan itu.

 

“Hahahaaaaa.. Si Po yang bodoh…” komentar salah seorang anak yang kemudian memicu tawa seisi ruangan.

 

Ada selintas luka yang tiba-tiba terasa nyeri. Entah bagaimana bocah seusia mereka sudah bisa melafalkan kata bodoh dengan fasih. Dan yang membuat lebih parah adalah mereka menertawakannya. Ah, ini bukan pertama kalinya. Tapi bukankah memang parameter sukses seorang badut adalah apabila bisa membuat orang lain tertawa? Ya. Meskipun apa yang membuat mereka tertawa adalah sesuatu yang mereka anggap bodoh? Ah, entahlah. Toh, mereka masih anak-anak. Semoga kelak mereka tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang gemar menertawakan kebodohan orang lain.

 

“Rena nggak suka mereka mengatakan Ayah bodoh. Mereka yang bodoh. Mereka yang bodoh…!” teriak anak perempuan semata wayangku suatu malam.

 

Sore itu, ia memaksa untuk ikut serta aku yang sedang mengisi acara hiburan di sebuah pesta ulang tahun ke-delapan anak seorang pengusaha yang sangat sukses, beberapa minggu yang lalu. Saat itu, beberapa orang anak mulai menertawakan gerakan celingukan yang sengaja kulakukan ketika berpura-pura mencari sekeping koin, sebagai bagian dari atraksi sulap yang kulakukan.

 

“Hahaha, bodoh.. kan tadi koinnya dibuang.. tolol ih.. bego..” dan ucapan serupa yang saat itu juga memicu tawa seisi ruang.

 

“Ssssttt, Rena sayang, anak cantik nggak baik bilang seperti itu, ya. Mereka semua pintar, sama seperti Rena” hiburku sembari mengusap pipi tembemnya yang basah oleh air mata.

 

“Tapi mereka bilang Ayah bodoh”

 

“Bukan, cantik. Yang mereka bilang bodoh bukan Ayah, tapi si badut”

 

Isaknya perlahan berhenti. Aku tersenyum menatap kedua bening bola matanya yang mengerjap beberapa kali untuk menghalau sisa air mata di pelupuknya.

 

“Benarkah, Ayah?”

 

Aku hanya mengangguk, lalu ia menghambur ke pelukanku.

 

“Rena sayang Ayah.. Rena nggak mau mereka bilang Ayah bodoh. Rena bisa dapat nilai bagus karena Ayah yang ngajarin Rena”

 

“Iya, cantik.. Iya..”

 

Malam itu ia tertidur di pangkuanku.

 

Ah, sebuah balon kembali meletus, spontan membuyarkan lamunanku. Kali ini bukan karena pantat pandaku. Tawa seisi ruangan masih bergema. Semuanya, kecuali satu. Gadis kecil berambut ikal yang cantik itu.

 

Wajahnya tampak terkejut, sama seperti yang lain. Hanya saja, di saat yang lain tertawa melihat Si Panda meletuskan balon dengan pantatnya, dia tidak. Bahkan sedikit senyum yang tadi tersungging di sana lenyap sempurna.

 

Aku memanfaatkan momen tawa yang sudah tercipta itu dengan gerakan Kung Fu yang seakan mencari di mana sumber bunyi letusan tadi. Tawa lepas itu terdengar lagi. Lagi-lagi, kecuali gadis itu.

 

Hai gadis cantik, ikutlah tertawa. Jangan patahkan hatiku.

 

Ya, bagi badut sepertiku, patah hati adalah ketika tidak berhasil membuat orang lain tertawa. Hmm, tentu saja aku tidak menghitung mereka yang memang fobia kepada badut. 🙂

 

Aku melanjutkan aksiku melakukan beberapa teknik sulap sederhana. Tidak kurang dari tiga puluh pasang mata bening itu menatap takjub seolah bertanya-tanya ke manakah hilangnya koin itu? Dari manakah datangnya kelinci yang lucu itu?

 

Dan senyum itu muncul lagi, meskipun hanya sedikit. Ia masih duduk di barisan dua dari belakang.

 

“Sekarang, siapa yang mau foto dengan Po, Si Kung Fu Panda?” ucap salah seorang guru pengajar yang disambut antusias dengan hampir semua tangan teracung ke udara, kecuali beberapa orang. Ada yang masih sibuk menghabiskan kuenya, ada yang sibuk membetulkan topi kerucut mereka, dan ada yang hanya duduk diam dan hanya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ya, si gadis cantik itu.

 

Pestapun usai. Aku mendapatkan beberapa bingkisan untuk kubawa pulang. Selepas berganti konstum, aku meminta izin membawa lima buah balon dengan warna berbeda. Akan kuberikan untuk anakku.

 

Sampai di gerbang sekolah, aku terkejut mendapati gadis cantik itu masih ada di sana. Wajahnya masih semurung tadi. Lebih parah lagi, tampak ada selapis tipis serupa kaca yang akan pecah dari bening bola matanya.

 

“Hai, cantik. Kenapa belum pulang? Tertinggal bis sekolah?”

 

Ia hanya menggeleng. Aku meletakkan tak ranselku yang berat berisi kostum yang tadi kukenakan, lalu berjongkok di hadapannya.

 

“Ini untukmu” aku menyodorkan lima buah balon yang kubawa tadi.

 

Ia kembali menggeleng, wajahnya semakin terlipat. Ia menangis.

 

“Kenapa menangis, cantik?” tanganku terulur menyeka buliran air yang keluar dari kedua bening bola matanya.

 

“Mereka mengatakannya lagi..”

 

Ah, tentu saja. Aku menghela nafas.

 

“Hei, ingatlah.. Setiap kali ada yang berkata seperti itu, yang mereka maksud adalah si badut, cantik.. Bukan..”

 

“Iya, Rena tahu.. Yang mereka bilang bodoh bukan Ayah”

 

“Jadi, Rena tadi nggak ikut bis sekolah karena mau pulang bareng Ayah?”

 

Gadis kecil berambut ikal yang cantik itu mengangguk perlahan, lalu menggandeng tanganku.

 

“Ayah, baju ulang tahun yang Gita pakai tadi bagus, ya?” tanya Rena membicarakan pesta ulang tahun teman sekelasnya yang baru saja usai.

 

“Rena mau yang seperti itu?”

 

“Mau, Ayah. Nanti Rena akan minta Ibu untuk menjahitkan yang seperti itu buat Rena”

 

Senyumnya mengembang. Bukan senyum yang sedikit seperti tadi. Satu, dua, tiga, bahkan ribuan bintang seakan berebut keluar dari kedua bola matanya.

 

“Rena mau yang warna apa? Ada rendanya juga? Pakai pita?”

 

Kami pun berjalan menuju halte bis sambil bergandengan tangan dan bercerita. Aku mendengarnya tertawa lepas sesekali di antara percakapan kami. Tentang baju ulang tahun, kue ulang tahun, atraksi badut, tentang apa saja.

 

*******

 

– pim 301013 –

Diikutsertakan dalam #PestaNulis1 dalam rangka ulang tahun blog @melctra yang pertama

 

gambar : film.list.co.uk

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

1 Comment

Leave a reply