• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Book Review – Always, Laila

Book Review – Always, Laila

Aku tidak akan lagi bertanya-tanya tentang kabar ataupun alasan perpisahan kita. Aku lelah dan terluka. Apa yang pernah dan belum kita miliki telah aku anggap mati. Dan ternyata kamu keliru. Karena hingga malam ini, aku masih tidak mengerti.

Judul: Always, Laila
Pengarang: Andi Eriawan
Editor: Denny Indra
Design Cover : FN
Tebal: 228 hlm
Rilis: Maret 2005 (cet ke-4)
Penerbit : Gagas Media

Saya sempat terkejut ketika sekitar awal atau pertengahan 2013 (saya tidak ingat bulan apa) begitu tahu bahwa novel Always, Laila akan cetak ulang dengan cover baru. Hal inilah yang membuat saya membaca lagi novel ini beberapa waktu lalu. Pertama kali membaca novel ini ketika masih kuliah. Ah, sudah lama banget ternyata.

Sampai sejauh ini, tiap kali mulai membaca novel, saya tidak pernah melewatkan bagian ucapan terima kasih oleh penulisnya. Entahlah, bagi saya melalui halaman itu saya bisa sedikit tahu bagaimana perjalanan penulis menyelesaikan karyanya dengan dukungan orang-orang di sekitarnya. Dan beberapa novel yang pernah saya baca, ada satu atau dua kalimat dari halaman ini yang menarik. Seperti novel Always, Laila ini, saya tertarik dengan kalimat yang penulis tujukan untuk teman-temannya, “Sungguh saya merasa heran, mengapa Tuhan menciptakan makhluk-makhluk seperti kalian. Mungkin karena Dia tahu, saya lebih membutuhkan tawa daripada tangisan.”

Ya, pasti ada satu masa dimana kita memiliki teman-teman tempat berbagi segalanya, termasuk tawa dan kekonyolan bersama. Saya jadi teringat teman-teman saya yang bersama mereka, keadaan buruk apapun bisa dilewati dengan senyum, bahkan tawa. Saya setuju dengan penulis, mungkin Tuhan tahu bahwa saya lebih membutuhkan tawa daripada tangisan (lalu mendadak kangen teman-teman lama pada masa itu dan mendadak mellow :D). Baiklah, kalo memperturutkan kenangan memang nggak akan ada habisnya 😀

Jadi, awal ketertarikan saya mengambil buku ini adalah ketika saya melihat covernya. So blue. Simple dengan ilustrasi tokoh perempuan di cover depan dan tokoh laki-laki di cover belakang. Yang kemudian saya tahu mereka bernama Laila dan Pram. Laila yang cantik, tidak pandai menggambar dan memasak. Pram yang secara fisik hanya mendapat nilai “cukup” dari Laila, jail, pandai melukis dan puitis. Tidak heran kalau ada beberapa taburan kalimat puitis di sini. Jujur saja, saya tidak terlalu menyukai novel yang terlalu banyak menggunaan bahasa yang terlalu puitis hingga pembaca kehilangan esensi ceritanya (hmm, mungkin cuma saya aja sih :D). Tapi di novel ini justru saya menyukainya karena bahasa puitisnya memang diletakkan pada tempat yang tepat, yaitu dalam puisi atau surat. Tentu saja karena Pram suka menulis puisi sehingga adanya puisi memang memperkuat karakternya.

Lalu ketika mulai membaca dan mengikuti kisahnya, hanya satu komentar : saya suka! Kisah cinta Pram dan Laila yang diwarnai hal-hal lucu dan manis menjadikan kisah cinta mereka romantis tapi nggak menye-menye. Konflik yang diangkat jelas menegaskan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Penulis tampak lihai dalam menuturkan kisahnya dengan alur maju dan mundur. Hingga pembaca tetap mendapatkan cerita utuh tanpa merasa bingung dengan perpindahan alurnya. Menurut saya, penulis pandai membolak-balikkan emosi pembaca. Mulai dari senyum-senyum sendiri, tertawa, tegang, hingga sedih (sedikit pengakuan, ada bagian dimana saya nangis saat baca). Bagi saya, penulis berhasil dalam memberikan emosi kepada para tokohnya hingga pembaca ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Satu lagi, Always, Laila adalah salah satu novel yang bisa saya baca beberapa kali tanpa melewatkan satu pun bab di dalamnya. Happy reading 🙂

 

Ini cover barunya :

934936_10151639764648980_2116120280_n

Gemuruh di dadaku mereda sendirinya

Langit menjadi lebih cerah

Dan udara tak lagi menyesakkan dada

Mungkin karena telah kutemukan definisi lain dari cinta

Makna tak lagi berasal dari pertemuan

Dan rasa rindu membuatku bahagia

– pim 210614 –

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

Leave a reply