• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Short Story – Dalam Temaram

Short Story – Dalam Temaram

candle lite

 

Hari ini adalah hari yang istimewa. Aku sengaja mengambil cuti. Bukan hanya karena hari ini suamiku akan pulang dari tugas luar kota selama sepuluh hari. Baru kali ini dia ditugaskan ke luar kota selama itu. Hari ini juga hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Aku akan memasak rendang daging dan tumis kembang pepaya. Sudah ada puding dengan potongan buah leci kesukaannya juga dalam lemari es. Dan masih ada satu lagi.

 

“Ini pesanannya, Bu. Benar dengan Ibu Aryo Sunaryo?” Seorang lelaki yang mungkin masih berusia pertengahan dua puluhan itu sembari mengecek secarik kertas yang dibawanya.

 

“Iya, betul. Makasih ya, Mas.” Segera kububuhkan tanda tanganku di atas kertas yang ia bawa setelah mengecek kesesuaian kue yang kuterima dengan pesananku.

 

Lega akhirnya mango cheesecake yang kuterima ini sesuai dengan pesananku, mengingat sebelumnya aku pernah memesan rainbow cake dengan tulisan selamat ulang tahun untuk Mas Aryo. Kuenya sesuai, hanya saja bukan nama Mas Aryo yang tertulis di situ, melainkan nama lelaki lain yang ternyata adalah nama mantan kekasih si pembuat kue. Ketika aku protes, ia mengakui bahwa dirinya sedang melamun. Maklum, semalam ia baru saja putus dengan kekasihnya itu.

 

“Maaf ya, Bu. Habisnya dulu pacar saya itu jatuh cinta sama saya karena mencicipi kue mejikuhibiniu buatan saya ini, Bu.”

 

Ada jeda waktu beberapa saat bagiku untuk mengerti bahwa kue mejikuhibiniu yang ia maksud adalah rainbow cake.

 

“Katanya, cintanya buat saya persis seperti kue mejikuhibini ini, Bu. Warna-warni. Indah.”

 

“O gitu ya, Mbak.”

 

Entah mengapa rentetan kata omelan yang tadinya siap kuluncurkan karena kesalahan penulisan nama di kue pesananku itu mendadak tidak jadi keluar. Ada rasa geli bercampur kasihan mendengarnya bercerita.

 

“Setelah jadian, setiap malam minggu kami pergi nonton, makan di luar atau sekedar jalan-jalan. Kami suka pakai baju warna yang sama. Merah di malam minggu pertama, jingga di malam minggu ke dua, dan seterusnya. Malam minggu ini seharusnya kami pakai warna ungu.”

 

“Ooo.. pilih warnanya urut warna pelangi ya, Mbak?”

 

“Iya, Bu. Tapi saya lupa. Pelangi kan memang nggak pernah abadi ya, Bu. Nongolnya cuma sebentar. Pantesan hubungan saya sama dia juga nggak lama, Bu.”

 

Jadilah aku membiarkan kue itu tertulis oleh nama lelaki lain. Abang Bianglala Sukoco. Mas Aryo hanya tertawa mendengar ceritaku setelah sebelumnya sempat bingung saat membaca nama yang tertulis di kue ulang tahunnya saat itu.

 

Aku mulai menata meja makan dan meletakkan beberapa makanan yang sudah siap di atasnya. Kulirik jam yang tergantung di dinding ruang makan. Perkiraanku Mas Aryo akan datang sekitar 45 menit lagi. Tapi entahlah. Hujan yang mulai turun satu jam yang lalu masih saja belum berkurang derasnya. Jalanan Ibukota tidak pernah ramah setiap kali hujan turun, terlebih jika hari Jumat. Hari terakhir bekerja. Hari dimana setiap orang bergegas untuk dapat pulang ke rumah masing-masing dengan segera. Untung saja ini hari Kamis.

 

Aku lega kegiatan memasakku sudah selesai ketika listrik di rumah tiba-tiba padam. Aku melongok dari jendela dapur, memastikan listrik di rumah lain di komplek ini juga sedang padam. Tadinya aku tidak merencanakan candle light dinner. Mas Aryo tidak menyukainya.

 

“Nggak enak, makan kok gelap-gelapan. Lagian nanti aku nggak bisa bedakan mana rainbow cake dan mana kamu.” Katanya pada acara makan malam yang kusiapkan saat ulang tahunnya.

 

“Lho, kok aku disamakan dengan rainbow cake?”

 

“Iya. Kamu kan cantik. Bersamamu, hidupku jadi warna-warni. Persis seperti pelangi. Trus satu lagi. Kamu manis, seperti rainbow cake.

 

Haha. Sambil menyalakan lilin, aku jadi tertawa sendiri mengingat percakapan kami malam itu. Namun lamunan itu buyar seketika. Aku terkejut ketika melihat cahaya api dari lilin yang baru kunyalakan menerangi dapur mungilku. Ada bayangan sesosok lelaki yang terpantul di pintu lemari es. Refleks aku menengok ke belakang.

 

“Mas Aryo?”

 

Sosok itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Sedikit heran bahwa Mas Aryo tiba 30 menit lebih cepat dari perkiraanku. Hujan di luar masih terdengar riuh. Sudahlah, yang penting aku senang Mas Aryo sudah datang.

 

“Mas Aryo basah kuyup begini. Mandi dulu, ya. Sudah kusiapkan handuknya di kamar.”

 

Ia tetap tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berlalu menuju kamar utama di lantai atas. Tumben. Biasanya Mas Aryo akan mengecupku ringan setiap kali pulang kantor sebelum bersiap untuk mandi. Tapi tidak malam ini.

 

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit berlalu. Belum ada tanda-tanda Mas Aryo keluar dari kamar mandi. Dengan bantuan sebuah lilin, aku naik ke lantai atas. Masih terdengar suara gemericik shower dari dalam kamar mandi. Mas Aryo tidak pernah mandi selama ini. Justru biasanya dia yang protes ketika aku berlama-lama di kamar mandi.

 

“Sayang, mandinya lama banget. Kamu nggak perlu mandi lama-lama,” ucapnya suatu pagi.

 

“Kenapa? Karena aku sudah cantik ya?” Godaku.

 

“Bukan itu. Biar tagihan airnya nggak tinggi, sayang.” Jawabnya datar sambil melirikku usil.

 

Tok. Tok. Tok.

 

Akhirnya aku mengetuk pintu kamar mandi.

 

“Mas, mandinya masih lama? Buruan, yuk. Keburu lapar nih.”

 

Iya, aku menggunakan alasan bahwa aku keburu lapar karena itu alasan yang jitu supaya ia bergegas menuju meja makan. Pernah suatu kali aku mengajaknya segera makan karena tidak ingin makanannya menjadi dingin. Ia hanya berkata bahwa ia tidak keberatan makan dengan sayur dan lauk yang tidak lagi hangat. Tapi begitu aku mengajaknya makan karena aku sudah lapar, buku kesukaan yang sedang asyik ia baca pun akan segera ia letakkan.

 

Anything for you, honey.” Jawabnya saat itu.

 

Mas Aryo bukanlah orang yang romantis dalam berkata-kata. Ia sering kali langsung menunjukkan melalui perbuatannya. And I love the way he does it to me.

 

“Mas?”

 

Suara gemericik shower berhenti. Tidak ada jawaban dari dalam. Baru saja akan kuletakkan lilin di nakas samping tempat tidur kami, listrik menyala. Lalu, kudengar suara bel dari depan.

 

“Mas, aku turun dulu, ya. Ada tamu sepertinya.”

 

Tanpa menunggu jawaban dari Mas Aryo, aku bergegas ke bawah. Dan saat dimana kuputar kunci dan kubuka pintu depan itulah saat dimana dapat kurasakan aliran darahku turun dengan cepat. Betapa sosok yang ada di hadapanku ini membuatku mematung. Entah sepucat apa wajahku saat ini.

 

“Hai, sayang. I miss you.” Mas Aryo mengecup ringan keningku. Kecupannya terasa hangat dan lembut seperti biasanya.

 

Aku baru ingat bahwa Mas Aryo tidak membawa kunci rumah. Lalu siapa yang ada di kamar mandi atas?

 

*******

 

– pim 040114 –

Diikutsertakan dalam #TantanganMalamMinggu, menulis fiksi dengan menggabungkan unsur romance, komedi dan horor, diadakan oleh @NBC_IPB

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

6 Comments

  1. Rini · January 5, 2014 Reply

    Huwahhhhh, keren!!!!!!!
    Tambah kece aja tulisannya…
    Novel donk mba, masa cerpen melulu, hehe 😛

  2. PIM · January 11, 2014 Reply

    Maunya juga gituuuu.. tapi belum sampe napasnya kalo bikin novel, hahaaa..:D

  3. afkar · August 24, 2014 Reply

    huuhft….akhir yang mengejutkan tak kusangka kalo akhir klimksnya….sampe gak sadar kalo itu hanya fiksi hingga sempat merinding, tau gak ini kubaca dini hari 00:54 lho … karena penasaran ma cerpenmu
    hebat sahabat, terus berkarya ya…

  4. arisdian · November 8, 2014 Reply

    Sampe harus nahan napas baca cerpen ini..hahahaha..kereeeenn..

  5. dede · December 17, 2014 Reply

    Eitz untung ku baca cerpen ini bkn pas maljum kliwon ….hehehe…..

Leave a reply