• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
Dua Yang Tak Pernah Serasi

Dua Yang Tak Pernah Serasi

rain

“Apa yang lebih menakutkan daripada perasaan bahwa lo sudah nggak lagi mengenali diri lo sendiri?”

 

Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari kepalaku saat aku sedang bersandar dengan nyamannya di jok belakang mobilku. Jauh dari kebisingan dan aman dari polusi yang masih saja menyesaki paru-paru ibukota bahkan hingga selarut ini. Lima belas menit lagi tepat pukul 9 malam.

 

Aku yang selama perjalanan pulang kantor biasa menghabiskan waktu di dalam mobil dengan memejamkan mata sambil mendengarkan lagu melalui earphone, kali ini jangankan untuk memejamkan mata, untuk menyuruh otakku berhenti memikirkan pertanyaan yang tadi tiba-tiba terlontar dari kepalaku saja sulit. Hingga aku harus memaksa mataku untuk terpejam.

 

Kenyataan bahwa timku berhasil mencapai deal dengan salah satu klien terbesar yang sudah lama diincar oleh para petinggi perusahaan, dengan aku sebagai team leadernya adalah pencapaian yang luar biasa bagiku. Terbayang berapa banyak bonus yang akan kudapatkan akhir tahun nanti. Eits, tapi tunggu dulu, itu artinya dalam tiga sampai empat bulan ke depan jam kerja kami harus siap bersaing dengan petugas security, tapi bahkan jam kerja mereka pun masih lebih baik karena punya batasan 12 jam sehari tiap shift-nya.

 

Dan keberadaanku yang sampai selarut ini masih terjebak di jalanan ibukota ini adalah salah satu dampaknya. Dampak enaknya sih kalau yang ini. Bapak bos mengajak tim kami makan malam di sebuah hotel bintang lima tidak jauh dari di kawasan perkantoran kami di Sudirman untuk merayakan tender yang baru saja kami dapatkan.

 

“Rei, good luck ya, kamu arrange waktu untuk project update-nya, kalau perlu setiap minggu sekali, jadi kalau ada kendala atau peluang apapun bisa segera kita atasi dan manfaatkan. Kalau butuh sesuatu, jangan segan usulkan ya,” ucap Pak Bos di akhir acara makan malam.

 

Saya butuh cuti, Pak. Suara hatiku mencoba merayuku untuk menyuarakannya.

 

“Misalnya butuh konsultan ahli atau apapun supaya project ini smooth,” sambung Pak Bos.

 

“Siap, Pak.” Kataku akhirnya seraya meminta maaf pada suara hatiku karena mengabaikannya.

 

“Oke, saya akan bilang Lucy untuk mengatur makan malam kalian nanti kalau diperlukan.”

 

Aku hampir tersedak mendengar kalimat beliau barusan. Makan malam? Baiklah, jadi sudah hampir bisa dipastikan bahwa kemungkinan besar begitu project ini dimulai kami akan makan malam di kantor hampir setiap hari. Eh, by the way ya, minggu depan sudah mulai puasa Ramadhan. Jadi maksudnya setiap hari akan buka puasa di kantor? Nggak sekalian dipesankan menu buat sahur juga, Pak? No more crazy Friday night. Goodbye, cozy Saturday. Tapi aku masih berharap semoga project besar ini tidak akan menyentuh lazy Sunday-ku juga.

 

Aku membuka mataku perlahan ketika mendengar seseorang membunyikan klakson beberapa kali. Annoying.

 

“Bunyiin aja itu klakson sampai jebol juga gak bakal maju, udah tahu emang lagi macet,” omel Erman, sopirku.

 

Aku hanya menyunggingkan senyum mendengar omelannya.

 

Tapi omong-omong ya, ini sudah hampir pukul setengah sebelas malam dan jalanan masih macet? Sudah malem, woi. Ini orang-orang emang pulang kerjanya jam berapa?

 

“Ada apa Man, ini macetnya gak kayak biasanya? Lagian udah semalem ini…”

 

“Iya Mas, biasalah Jumat malem, apalagi tadi pas maghrib hujan deras begitu, jadi ya begini ini Mas…”

 

Oh iya. Ini hari Jumat malam. Gila ya, aku bahkan tidak ingat kalo ini hari Jumat. Mungkin karena selama ini, hampir tiap Jumat sore selalu ada Aryo atau Levi dengan ajakan crazy friday night-nya. Ini seperti reminder buat aku bahwa hari Jumat telah tiba. Haha, Bosku pasti bahagia kalau mengeahui ada karyawannya yang tidak menunggu-nunggu weekend.

 

Kami bertiga memiliki rutinitas crazy friday night ini sudah hampir setahun, sejak kami dipertemukan dalam acara training karyawan baru sekitar satu setengah tahun yang lalu dan mulai akrab setelahnya. Sebenarnya apa yang kami lakukan tidaklah se-crazy namanya. Kadang hanya sekedar nonton bareng, main bilyar, atau malah karaoke gila-gilaan bertiga. Kali ini tidak ada crazy Friday night. Aryo belum kembali dari perjalanan dinas ke Medan, sedangkan Levi setelah acara makan malam dengan Pak Bos tadi langsung cabut untuk mengurus pernikahannya yang direncanakan setelah lebaran nanti.

 

Ah, pernikahan dan lebaran. Menyandingkan dua kata itu tidak pernah terdengar serasi di telingaku. Tidak saat ini, tidak tahun lalu, tidak juga tahun sebelumnya. Tidak dalam konteks apapun. Selalu saja ada nada yang terdengar salah ketika dua kata itu diucapkan dalam satu kalimat, sehingga membuat aku selalu ingin menutup telingaku setiap kali mendengarnya. Atau bahkan tertawa sinis.

 

“Apa yang lebih menakutkan daripada perasaan bahwa lo sudah nggak lagi mengenali diri lo sendiri?”

 

Pertanyaan itu terlintas lagi. Bedanya, sekarang aku tahu dari mana pertanyaan itu bermula. Levi, sahabatku, di sela kesibukannya menuju kariernya yang cemerlang di kantor, masih juga memiliki sisi lain sebagai kekasih seseorang. Dia bahkan tengah menyiapkan pernikahan mereka.

 

Dua tahun yang lalu, aku adalah Levi saat ini. Sedang sibuk menyiapkan pernikahanku dengan perempuan yang adalah cinta masa remajaku. She’s just so perfect. Setelah enam tahun bersama, tepat ketika dia telah menyelesaikan masa penugasannya sebagai dokter muda, kami pun siap untuk menikah. Sampai pada suatu malam ketika kami akan memesan cincin pernikahan. Sama seperti malam ini, satu minggu sebelum bulan puasa tiba. Tangannya yang lembut menahan lenganku, spontan menghentikan langkahku. Dan apa yang dia katakan saat itu terdengar seperti bahasa asing yang tidak sanggup aku mengerti. Yang aku mengerti hanyalah ada lelaki lain. End of story.

 

Tadinya aku adalah pecinta kejutan. Tapi sama sekali bukan kejutan macam ini. Kenyataan mengejutkan yang bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkannya. Aku memutuskan untuk pindah ke perusahaan lain, yang aku tahu beban dan ritme kerjanya berlipat dengan harapan bisa menenggelamkan aku dalam kesibukan dan meredam semua perasaanku. Dan aku mulai berhasil. Sosoknya mulai memudar dari ingatanku, meski itu membuatku menjadi sosok yang berbeda. Yang mungkin tidak lagi bisa memaknai sendunya rintik hujan di sore hari. Aku tidak lagi menyukai kejutan. Apapun itu.

 

Ah, aku sudah hampir menutup kisah itu. Sudah dua tahun yang lalu. Hingga malam ini, ketika Levi permisi sebentar meninggalkan meja makan untuk menemui calon istrinya yang kebetulan sedang melihat salah satu ruangan di hotel ini sebagai tempat resepsi mereka. Saat itulah aku melihat dia. Perempuan itu. Cinta masa remajaku. Mantan calon istriku yang ternyata kini adalah calon istri sahabatku.

 

Kemacetan mulai terurai. Aku kembali memejamkan mata. Berusaha memaknai setiap kejutan yang selalu Dia berikan kepadaku setiap menjelang Ramadhan. Seperti aku berusaha kembali memaknai rintik hujan yang perlahan kembali turun malam ini.

*******

 

– pim, Juli 2013 –

Tulisan diikutsertakan dalam proyek menulis dengan tema “Kejutan Sebelum Ramadhan” oleh nulisbuku.com

Terpilih sebagai salah satu cerpen yang dibukukan dalam kumpulan cerpen Kejutan Sebelum Ramadhan buku #5 (bisa dipesan melalui nulisbuku.com)

 

Foto diambil dari http://www.hongkiat.com/blog/rainy-day-photography

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

Leave a reply