• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
On My Way Home

On My Way Home

What If.

“What” and “If” are two words as non-threatening as words can be. But put them together side by side and they have the power to haunt you for the rest of your life. What if? What if? What if?

Kuhela napas panjang. Bahkan di tengah keriuhan suasana bandara sore inipun aku masih dapat mengingat dengan jelas penggalan kalimat dari film Letter to Juliet yang kutonton semalam. Dan benar. Kata itu seolah menghantuiku. What if I have never let him go? What if I ran to him and told him that I still love him? What if I could only turn back time? What if? What if? What if?

My bestfriend once asked me, “Why do you love traveling? Don’t you miss staying home?”

Home? Aku tidak pernah mengartikan kata itu sebagai sebuah bangunan tempatku pulang bertemu kedua orang tua dan keluarga besar. Bagiku, rumah adalah tempat di manapun aku dapat diterima dengan baik. Tempatku merasa nyaman. Tempatku memiliki alasan untuk kembali dari tiap perjalanan yang kulakukan. Dan aku pernah merasakannya sekali. Someone I called home. But, since he left.. Since he just left.. Then I become homeless. A 25 years old homeless girl. 

Sejak itu aku lebih suka bepergian. Berlama-lama di kota kembang ini dengan segala kenangan yang ada menjadikan kota ini bukan lagi rumah bagiku. Terlebih dua tahun terakhir ini ketika pimpinan redaksi majalah tempatku bekerja memindahkanku ke rubrik fashion and travel.

“Ya emang ini kerjaan gue. Lagian gue emang suka jalan-jalan. Nggak banyak lho orang jalan-jalan trus dibayar.” Jawabku asal kepada Nadia, sahabatku yang baru saja melahirkan anak pertamanya dua bulan lalu.

“Jalan-jalan sama lari itu beda lho, Van.”

Jleb. Kalimat yang keluar dari bibir mungil Nadia yang tidak pernah absen dari pulasan lipgloss itu bagai busur panah yang dilepaskan oleh pemanah profesional. Tampak ringan namun begitu tepat sasaran. Aku mengerti apa maksudnya.

What about Dewa? Sepertinya dia serius sama lo.” Tanya Nadia kemudian ketika sadar kalimat sebelumnya yang dia ucapkan tidak mendapat respon apapun dariku.

“We’ll see, Nad. We’ll see.” Jawabku datar. Tentu saja Nadia belum tahu bahwa dua malam lalu Dewa telah melamarku. Dan itu artinya sudah dua hari ini pula kami belum saling menghubungi lagi. Sigh.

“Vania, will you marry me?

Mungkin yang pernah Nadia katakan benar. Bukan Vania namanya kalau tidak ceroboh dan sering mengacaukan sesuatu di saat-saat penting. Seharusnya aku sadar bahwa ajakan makan malam Dewa dua hari lalu bukanlah ajakan makan malam biasa. Seharusnya aku mengenali bahwa binar mata Dewa malam itu bukanlah binar yang biasa. Seharusnya. Ah, Vania, kamu seharusnya mulai lebih sensitif untuk hal-hal kecil malam ini. Tunggu. Ini bukan hal kecil. Ah, justru lebih parah, Vania. Parah.

Ingin rasanya aku menceburkan diri ke kolam yang dipenuhi bunga teratai di samping meja makan kami malam itu. Oh tidak. Mungkin aku harus lari ke balik mini stage tempat penyanyi yang malam itu menyanyikan lagu “Thousands Years” sambil tersenyum ke arah kami berdua. Dan kini aku baru menyadari mungkin saja Dewa yang sengaja memintanya menyanyikan lagu itu ketika dia menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapanku.

“Van?”

“Rei, aku..”

“Van, ini aku.”

Oh Tuhan. Oh Tuhan. Oh Tuhan. Mengapa di antara semua waktu yang ada, nama Rei justru keluar dari bibirku malam ini? Di depan Dewa?

Dan di sinilah aku sekarang. Menunggu panggilan boarding pesawat yang akan membawaku ke Melbourne. Mengatasnamakan pekerjaan. Aku benci mengakui bahwa Nadia benar. Aku selalu lari. Kuraba cincin yang tertutup oleh syal yang kukenakan setelah aku mengecek ponsel. Tidak ada panggilan masuk dari dia. Tidak juga pesan singkat. Ah, aku pun mengapus pesan yang tadinya akan kukirim untuk Dewa.

Dear universe, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku? If this is love, then why does it feel so hurt?

 

(to be continued)

 

– pim 220614 –

 

*ditulis dalam rangka ajakan nulis #WhatIfLove by @aMrazing

 

 

*gambar diambil dari www.travelweekly.com

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

5 Comments

  1. arisdian · November 8, 2014 Reply

    Mbak..ditunggu lanjutannya ^^ kepooooo niiiihhhh

  2. Rini · November 17, 2015 Reply

    Lanjutan ini yang mana mbak? Aku penasaran lhooo…

  3. Rini · November 28, 2015 Reply

    Lanjutkan doonk 😀
    Dalam bentuk novel oke tuh kayak ny 😛

    • Pipit Indah Mentari · November 29, 2015 Reply

      Awaaal banget pas nulis cerita ini sebenernya diniatkan jadi novel.. Cita-citanya sih begitu, haha…:D

Leave a Reply to Pipit Indah Mentari Cancel reply