• facebook
  • instagram
  • twitter
  • mail
To Keep Reality Remains Real

To Keep Reality Remains Real

Book-time

Apa yang terlintas ketika pertama kali mendengar kata “baterai”?

Penyimpan energi. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang baterai, baterai ada dua macam, yaitu yang disposable seperti baterai yang biasa kita beli di warung/toko swalayan untuk jam dinding, remote control, dll. Sedangkan jenis kedua yaitu baterai yang rechargable, seperti baterai ponsel. Yang mana pun itu, ketika masih dalam kondisi baru atau baru di-charge, kedua baterai akan memiliki energi penuh yang siap digunakan. Energinya pun lambat laun akan berkurang seiring pemakaian, hingga tidak lagi dapat berfungsi (untuk baterai disposable). Sedangkan baterai yang rechargable akan membutuhkan waktu untuk re-charge supaya ia dapat berfungsi seperti semula.

Dari beberapa artikel yang saya baca, dalam hal ini baterai smartphone, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan ketika mengisi baterai ponsel supaya tahan lama. Yang pertama yaitu pengisian baterai smartphone jangan dilakukan ketika baterai sudah benar-benar habis. Beberapa menyebutkan supaya energi baterai yang tersimpan diupayakan minimal 20%. Jika sudah di bawah 20%, maka sebaiknya baterai smartphone segera di-charge supaya performance baterai tetap optimal. Hal kedua yang perlu dijaga yaitu agar tidak melakukan pengisian baterai semalaman. Segera setelah energi baterai terisi 100%, sebaiknya proses charging segera dihentikan, meski beberapa charger dapat memutus arus listrik ketika energi baterai telah mencapai 100%.

Pada satu dan lain hal, saya jadi menghubungkannya dengan energi yang dimiliki oleh setiap orang. Masih ingatkah bagaimana perasaan kita ketika pertama kali masuk sekolah? Ketika pertama kali masuk kuliah? Ketika pertama kali masuk kerja? Energi masih terisi 100%. Fully charged. Lalu seiring berjalannya waktu, adakah yang berubah?

Banyak.

Tugas-tugas sekolah maupun kuliah yang kita dapat, ujian tengah semester, akhir semester, hingga tugas di tempat kerja yang tidak jarang menyedot banyak energi kita. Waktu normal yang kita gunakan untuk re-charge energi yang kita miliki adalah ketika tidur, juga ketika weekend. Berharap dalam rentang waktu tersebut energi akan kembali terisi penuh. Namun, pernahkah merasa waktu istirahat yang kita miliki ternyata tidak mempu membuat energi kita recover sepenuhnya? Jangan-jangan jawabannya adalah sering :p

Nah, bisa jadi mungkin itu terjadi karena kita membiarkan energi kita terkuras habis sebelum akhirnya mengambil waktu untuk re-charge. Mungkin kita lupa untuk menyisihkan setidaknya 20% dari energi yang kita miliki untuk menjaga performance “baterai” kita tetap optimal setelah di-charge. Dan jangan lupa, bagi yang bekerja bahwa kita memiliki cuti tahunan yang pada umumnya adalah 12 hari dalam setahun. Bahkan beberapa perusahaan tidak mengizinkan karyawannya untuk memperpanjang cuti tahunan yang mereka miliki tahun itu ke tahun berikutnya atau dengan kata lain karyawan wajib mengambil hak cuti tahunan mereka. Hal ini otomatis “memaksa” karyawan mengambil cuti. Sekadar memberikan hak kepada tubuh, pikiran, dan energi kita untuk recovery. (Saya jadi bertanya-tanya, adakah karyawan yang sampai harus dipaksa untuk mengambil cuti? :D). Sekadar melakukan hal-hal yang kita suka. Mungkin bersepeda pada Sabtu dan Minggu pagi, mencoba resep masakan baru, menanam tanaman yang baru kita beli dari penjual tanaman keliling yang lewat depan rumah, mencoba kuliner baru, menonton film di bioskop atau menonton back to back serial favorit kita melalui DVD, membaca novel, menulis, bermain dengan anak-anak, atau sekadar duduk di sudut sofa rumah kita dengan secangkir teh hangat di tangan kanan sementara tangan kiri men-scroll down atau scroll up  timeline facebook, twitter, path, instagram, dan banyak lagi. Apa pun yang membuat kita lepas sejenak dari rutinitas yang menguras “baterai” kita.

 

Let’s find our “me time”. Not to keep reality away, but to keep reality remains real.

Finding-Me-Time

*******

 

– pim 111015 –

 

#ArisanNulis #Week2 #Baterai

Foto diambil dari www.theteatalk.com

Doing something we love is fun, right? And I love food traveling, reading, watching movie, writing, and crafting sometimes..:-) -- Seorang farmasis, karyawan di salah satu perusahaan farmasi di Indonesia :) Yang meyakini bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hobi, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa..!! -- Yang suatu saat bisa berkata : "People call it work, but I call it hobby" --

2 Comments

  1. dma · October 12, 2015 Reply

    Mbapipiiit, mulai sekarang kalau udh 19.9% langsung ambil cuti ah… :p
    Ehtapi, blm punya cuti :[

    “Let’s find our “me time”. Not to keep reality away, but to keep reality remains real.”
    -Noted :]

    • Pipit Indah Mentari · October 18, 2015 Reply

      Hahahaaaa… iyahhh, harus ituuu.. biar baterainya tahan lama 😉
      Aduh, seandainya cuti bisa dikasih ya.. ini cutiku masih banyakkk, hihi

Leave a Reply to dma Cancel reply